xavola.id Perawatan Diri Tadabbur Alam dan Life Skill untuk Penyintas Skizofrenia

Tadabbur Alam dan Life Skill untuk Penyintas Skizofrenia

0 0
Read Time:3 Minute, 8 Second

Yayasan Mutiara Semesta Abadi bersama Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI) menggelar kegiatan tadabbur alam dan pelatihan keterampilan hidup pada 8–9 Agustus 2026. Kegiatan bertajuk “Pulih, Berkarya & Bersama Menumbuhkan Harapan” berlangsung di Pondok Ilmu Kuta Bambu, Megamendung, Bogor, dan dirancang untuk memberi ruang pemulihan sekaligus pemberdayaan bagi penyintas skizofrenia.

Ilustrasi tadabbur alam untuk artikel Tadabbur Alam dan Life Skill untuk Penyintas Skizofrenia

Kegiatan ini tidak hanya mengajak peserta menikmati suasana alam, tetapi juga melibatkan mereka dalam aktivitas yang menumbuhkan kemandirian, disiplin, kemampuan bersosialisasi, dan pengelolaan emosi. Pembukaan acara dilakukan oleh Dityaningsih Juliawati (Dita) sebagai Pembina Yayasan Mutiara Semesta Abadi. Dalam sambutannya ia menegaskan bahwa pemulihan bukan sekadar reduksi gejala.

Rangkaian kegiatan dan pengalaman berkebun

Selama dua hari, peserta mengikuti beragam kegiatan mulai dari tadabbur alam, membuat taman, berkebun, olahraga, permainan kelompok, malam keakraban, shalat berjamaah, tausyiah, hingga sesi berbagi pengalaman dan motivasi. Aktivitas membuat taman dan berkebun menjadi salah satu momen paling berkesan. Peserta menata taman, menanam, merawat tanaman, serta mengecat pagar dan bebatuan secara berkelompok.

Kerja bersama tersebut menunjukkan bahwa hasil yang rapi dan asri memerlukan proses, kesabaran, serta perawatan yang konsisten—sebuah analogi yang sengaja dibangun untuk menggambarkan proses pemulihan. Kegiatan praktis seperti ini juga memberi kesempatan bagi peserta merasakan tanggung jawab, kerja tim, dan pencapaian nyata.

Pendampingan dalam menghadapi tantangan emosional

Sepanjang kegiatan, terdapat momen ketika beberapa peserta mengalami trigger emosional—menghadapi kenangan masa lalu atau situasi kompetitif yang tidak sesuai harapan. Perbedaan prestasi dan pengalaman sempat memunculkan kesedihan, marah, atau kecewa pada sebagian peserta. Kehadiran mentor, psikolog, dan panitia menjadi penyangga penting untuk mencegah situasi berkembang menjadi negatif.

Melalui pendampingan yang konsisten, peserta diajak belajar menerima kenyataan, mengelola emosi, serta menghargai kelebihan dan keterbatasan diri dan orang lain. Pendekatan ini menekankan bahwa kalah bukan berarti gagal sebagai manusia, dan keterbatasan bukanlah ukuran nilai seseorang.

Perkembangan, latar belakang peserta, dan harapan keberlanjutan

Ketua panitia sekaligus psikolog, Etna Maria, menyatakan terharu dan kagum terhadap perkembangan para penyintas jika dibandingkan situasi 35 tahun lalu. Menurutnya, kini lebih banyak kesempatan bagi penyintas untuk pulih, bersosialisasi, bekerja, dan berkarya ketika mendapat pendampingan dan lingkungan yang tepat.

Peserta berasal dari latar belakang pendidikan dan pekerjaan yang beragam, mulai lulusan SMP hingga S1, serta profesi seperti office boy, driver online, wirausaha, karyawan swasta, pekerja paruh waktu hingga pelaku usaha online. Keragaman ini menjadi bukti bahwa perjalanan hidup penyintas tidak berhenti pada diagnosis, melainkan memiliki potensi yang bisa dikembangkan.

Pada sesi penutupan, banyak peserta menyampaikan kesan positif dan berharap program seperti ini berlanjut sebagai rangkaian pendampingan, bukan hanya kegiatan dua hari. Menjawab harapan tersebut, Dita menegaskan bahwa ini merupakan langkah awal pembinaan yang harus berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya dukungan dari keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, dunia usaha, masyarakat, dan pemerintah.

“Pemulihan bukan hanya tentang mengurangi gejala, tetapi juga mengembalikan harapan, martabat, dan kesempatan untuk berkarya,” ujarnya.

Lebih jauh, Dita menyerukan agar dukungan diwujudkan dalam program berkelanjutan yang membuka ruang bagi penyintas untuk mengembangkan kapasitasnya. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah kegiatan sosial, tetapi menjadi awal dari perhatian dan langkah nyata yang berkelanjutan. Kami mengajak pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah, untuk melihat bahwa para penyintas skizofrenia adalah bagian dari masyarakat yang memiliki potensi untuk pulih, mandiri, bekerja, dan berkarya,” ujar Dita.

Ia menegaskan pula: “Mereka tidak membutuhkan belas kasihan semata. Mereka membutuhkan kesempatan, kepercayaan, pembinaan, pendampingan, dan ruang untuk berkarya. Kami berharap pemerintah dapat hadir lebih nyata melalui kebijakan dan program yang berkelanjutan, sehingga proses pemulihan tidak berhenti ketika sebuah kegiatan selesai. Jangan biarkan mereka berjalan sendiri. Berikan kesempatan, hadirkan pendampingan, dan bukakan ruang untuk berkarya. Karena ketika para penyintas diberi kesempatan untuk pulih dan produktif, mereka bukan menjadi beban, tetapi menjadi bagian dari solusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.”

Kegiatan Tadabbur Alam & Life Skill Education menjadi wujud upaya mempertemukan pemulihan klinis dengan pembelajaran praktis di alam, sekaligus mengingatkan bahwa dukungan berkelanjutan adalah kunci agar penyintas skizofrenia dapat pulih, berkarya, dan berperan aktif dalam masyarakat.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Related Post