Industri mode mengalami perubahan signifikan untuk mengurangi limbah tekstil. Mulai Senin, 20 Juli 2026, kebiasaan menghancurkan pakaian tak terjual tidak lagi diperbolehkan bagi merek-merek besar; produk yang tidak laku harus disalurkan kembali ke pasar dan diperbaiki bila perlu.

Langkah ini dimaksudkan untuk menekan praktik fast fashion dan pemborosan produksi. Konsumen juga bisa mendapat keuntungan langsung: barang baru yang diperbaiki dapat dijual dengan harga lebih rendah, sehingga membeli produk yang masih dalam kondisi baik menjadi lebih terjangkau.
Aturan baru dan kewajiban merek
Dengan aturan yang mulai berlaku pada 20 Juli 2026, perusahaan besar di sektor pakaian tidak lagi diperkenankan menghancurkan stok yang tidak terjual. Sebagai gantinya, mereka wajib menempatkan kembali produk tersebut untuk dijual atau melakukan perbaikan jika terdapat cacat yang masih memungkinkan untuk diperbaiki.
Aturan ini menandai perubahan kebijakan terhadap manajemen sisa produksi. Tujuannya adalah mengurangi volume sampah tekstil yang selama ini timbul dari praktik pemusnahan barang. Ketentuan juga mengatur bahwa bila kerusakan pada barang terlalu parah untuk diperbaiki, opsi terakhir adalah mengirimkan produk itu ke fasilitas daur ulang.
Dampak bagi konsumen dan harga
Salah satu efek langsung dari kebijakan ini adalah penurunan harga pada sejumlah barang yang telah diperbaiki dan dijual ulang. Contoh yang disorot adalah sebuah gaun yang semula dihargai 70 euro; setelah melalui proses perbaikan, harga jualnya dapat turun menjadi 42 euro. Kondisi ini memberi peluang bagi pembeli untuk memperoleh barang baru dengan biaya lebih murah tanpa harus membeli produk second-hand.
Selain soal harga, perubahan ini juga diharapkan mendorong kesadaran konsumen terhadap siklus hidup pakaian: dari produksi, distribusi, sampai perbaikan dan daur ulang. Bagi merek, kebijakan ini memaksa mereka mempertimbangkan ulang jumlah produksi dan strategi penjualan agar stok tidak menumpuk dan menimbulkan pemborosan.
Perbaikan, penjualan ulang, dan daur ulang sebagai opsi
Dalam praktiknya, ada beberapa jalur yang dapat ditempuh untuk menangani pakaian tak terjual:
- Penjualan ulang barang baru setelah penawaran ulang di toko atau outlet resmi.
- Perbaikan minor sebelum dijual kembali, sehingga produk layak pakai dengan harga lebih rendah.
- Pengiriman barang rusak berat ke fasilitas daur ulang untuk diolah kembali menjadi bahan atau produk lain.
Ketentuan tersebut menempatkan perbaikan sebagai bagian penting dari rantai pasok, bukan sekadar alternatif. Perbaikan memungkinkan produk yang memiliki cacat ringan tetap beredar sebagai barang baru dengan nilai ekonomis yang lebih rendah.
Langkah ini dipandang sebagai tonggak penting dalam upaya mengurangi dampak lingkungan dari industri pakaian, sekaligus memberi insentif ekonomi bagi konsumen yang ingin membeli produk baru dengan harga lebih terjangkau. Implementasi di lapangan akan menjadi kunci untuk melihat sejauh mana kebijakan ini efektif mengurangi pemborosan dan mendorong praktik produksi yang lebih berkelanjutan.
