Terapi rokok yang belakangan viral di media sosial mendapat perhatian dari kalangan medis. Beredar klaim bahwa praktik tersebut mampu membantu mengobati penyakit mulai dari gangguan ginjal hingga stroke, serta dipromosikan dengan tarif yang tidak murah per sesi.

Salah satu tenaga medis yang angkat bicara adalah Dokter Spesialis Paru Erlina Burhan. Erlina tercatat sebagai anggota Divisi Infeksi Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Pernyataan terkait fenomena itu disampaikan pada 25 Juli 2026.
Klaim pengobatan dan biaya per sesi
Di tengah peredaran klaim pengobatan, salah satu aspek yang juga mencuri perhatian publik adalah besaran biaya yang dipatok. Informasi yang beredar menyebutkan biaya sesi terapi tersebut dapat mencapai ratusan ribu rupiah. Klaim yang dikaitkan pada terapi rokok itu disebut-sebut mencakup kondisi serius, termasuk gangguan ginjal sampai stroke.
Meski demikian, keterangan rinci mengenai mekanisme terapi, bukti ilmiah pendukung, durasi perawatan, atau standar praktik yang digunakan tidak tersedia dalam bahan yang diakses. Informasi yang beredar lebih banyak berupa unggahan dan klaim di platform media sosial tanpa lampiran penelitian atau rujukan medis yang jelas.
Peran dan pernyataan dokter paru
Dokter Erlina Burhan, sebagai spesialis paru yang berkarya di bidang pulmonologi dan infeksi, menyatakan keprihatinan atas fenomena yang menimbulkan perhatian luas tersebut. Ia menyampaikan bahwa sebagai seseorang yang telah lama berkecimpung di dunia kesehatan, ia memahami besarnya perhatian publik terhadap isu seputar pengobatan alternatif yang viral.
Pernyataan lengkap dari Erlina Burhan tidak tersedia dalam bahan yang dapat diakses untuk artikel ini, sehingga konteks dan rincian tanggapannya belum dapat disajikan secara penuh. Yang jelas, keterlibatan seorang pakar paru menambah bobot perdebatan publik mengenai klaim terapi ini.
Pentingnya klarifikasi dan verifikasi
Fenomena klaim pengobatan yang menyebar cepat di media sosial menyoroti kebutuhan akan klarifikasi dan verifikasi dari sumber yang kompeten. Dalam konteks kesehatan, informasi yang menyangkut diagnosis, mekanisme terapi, efektivitas, dan potensi risiko idealnya didukung oleh bukti ilmiah seperti studi terkontrol, panduan klinis, atau penjelasan dari lembaga kesehatan resmi.
Publik disarankan untuk berhati-hati dalam menerima klaim pengobatan yang disebarluaskan secara viral, terutama bila klaim tersebut tidak disertai rujukan penelitian atau penjelasan medis yang jelas. Keputusan pengobatan sebaiknya didiskusikan dengan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang terkait.
Kasus viralnya terapi rokok ini menunjukkan bagaimana informasi kesehatan dapat cepat menyebar dan menimbulkan pertanyaan tentang keabsahan klaim serta implikasi biaya bagi pasien. Kehadiran pernyataan dari dokter spesialis seperti Erlina Burhan turut mendorong kebutuhan akan dialog yang lebih terbuka publik dan profesional kesehatan.
Sejauh informasi yang tersedia pada 25 Juli 2026, detail lebih lanjut mengenai prosedur terapi, bukti efektivitas, atau respons resmi dari otoritas kesehatan belum dapat dipastikan. Pembaca diimbau mengikuti perkembangan informasi dari sumber resmi dan mempertimbangkan verifikasi sebelum mengambil keputusan terkait pilihan pengobatan.
