xavola.id Fashion Rutinitas pagi edwards: D’Wayne Edwards: Rutinitas pagi yang…

Rutinitas pagi edwards: D’Wayne Edwards: Rutinitas pagi yang…

0 0
Read Time:3 Minute, 2 Second

D’Wayne Edwards dikenal sebagai legacy sneaker designer at Nike dan kini menjabat president of Pensole Lewis College of Business & Design di Detroit. Rutinitas pagi Edwards menjadi bagian penting dari pendekatannya terhadap karya, pendidikan, dan pembentukan budaya desain di kampus yang fokus pada pendidikan desain tersebut.

Ilustrasi rutinitas pagi edwards untuk artikel Rutinitas pagi edwards: D’Wayne Edwards: Rutinitas pagi yang…

Bagi Edwards, rutinitas bukan sekadar kebiasaan, melainkan cara mempersiapkan diri menghadapi tugas kreatif hari itu. Pengaruh pemikiran Bruce Lee yang dipelajarinya sejak SMA ikut membentuk cara ia memandang proses desain — bahwa gaya harus mengikuti kebutuhan situasi. “I thought he was this guy who did karate,” kata Edwards, sebelum menjelaskan sisi filosofis Lee yang lebih luas. “He doesn’t have a fighting style,” tambahnya. “His fighting style is whatever his opponent forces him to do. That’s how I look at design.”

Filosofi desain: fokus pada masalah, bukan gaya

Edwards menekankan bahwa desain harus lahir dari kebutuhan konkret, bukan dari ingin menonjolkan gaya tertentu. Pengamatannya terhadap proses kreatif mengajarkan satu hal inti: “I focus on becoming the creative or the designer for the problem I’m trying to solve.” Dengan latar belakang pendidikan yang sepenuhnya on the job—mulai dari Skechers hingga Nike—ia mengaku banyak belajar dari praktik langsung dan percakapan dengan para profesional lintas bidang.

Ia mendorong agar desainer mencari inspirasi di luar ranah mereka sendiri dan membangun “creative circles” yang memberikan energi positif. Menurut Edwards, interaksi dengan orang-orang yang memberinya energi lebih bernilai daripada mereka yang menguras semangat. Sikap selektif terhadap lingkungan inilah yang menurutnya memperkuat kemampuan kreatif seseorang.

Kebiasaan pagi: disiplin, bacaan, dan perlindungan energi

Asal-usul rutinitas paginya bermula saat bekerja di Skechers, ketika ia ingin memahami kebiasaan chairman perusahaan tersebut, Robert Greenberg. Bermula dari permainan untuk datang lebih awal, ia akhirnya menemukan praktik yang membentuk pola hariannya: membaca materi industri dan bisnis, menata hari, dan menenangkan diri sebelum bekerja. Edwards menceritakan praktik itu secara gamblang: ia membaca kutipan inspiratif, informasi industri, dan berita olahraga, serta menjaga apa yang masuk ke pikirannya. Ia menegaskan, “Good in, great out. Bad in, worse out.”

Baginya, rutinitas pagi adalah bentuk perlindungan: “Go into everything empty, with the goal of filling your cup.” Ia bahkan menghindari media sosial untuk menjaga kualitas masukan yang diterima otaknya.

Dari sepatu atlet ke pendidikan: menghubungkan masalah dengan solusi

Pengalaman Edwards merancang untuk atlet memberi gambaran bagaimana proses kreatifnya bekerja dalam praktik. Saat mendesain untuk Carmelo Anthony, ia mengetengahkan diskusi mendalam tentang makna kata-kata atlet itu: “Man, my focus is I want to be quicker and more agile.” Edwards merespons dengan keingintahuan teknis: “Damn, you’re 6’8′′ and 230 lb. Let me dive into every word.” Pendalaman itu membawanya mengamati gerak jaguar, berkonsultasi dengan ahli satwa di kebun binatang, lalu berujung pada ide menggunakan konsep kompresi dari pantyhose untuk memperbaiki aliran darah dan energi saat bergerak.

Selain produk, Edwards juga melihat desain sebagai alat pendidikan. Ketika seorang guru matematika mengajaknya mengajarkan geometri lewat desain sepatu, ia menyadari bahwa proses desain memang menuntut perhitungan, penggunaan bahan, dan optimisasi ruang—konsep-konsep yang relevan dengan kurikulum matematika. “Goddammit, she’s right,” ujarnya menanggapi pengalaman itu, dan kemudian mengintegrasikan pendekatan problem-solving ke dalam pengajaran.

Edwards menyerukan agar pendidikan desain disusun sedekat mungkin dengan realitas pekerjaan. Pengalaman menilai ribuan portofolio selama hampir empat dekade memberinya perspektif tajam tentang apa yang membuat pendidikan bernilai. Menurutnya, model pendidikan saat ini berada pada titik yang harus dirombak agar lebih relevan bagi calon desainer.

D’Wayne Edwards menaruh perhatian besar pada bagaimana kreativitas dilatih setiap hari, bagaimana disiplin pagi membentuk kesiapan mental, dan bagaimana pendidikan harus menyesuaikan diri dengan praktik industri. Pendekatannya yang pragmatis—menggabungkan filsafat, seni, riset, dan praktik—membentuk visi tentang masa depan pendidikan desain yang relevan dan berorientasi solusi.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Related Post