Perdebatan tentang fashion berkelanjutan perlu beralih dari menganggapnya sebagai kategori tersendiri yang akan menyelesaikan masalah industri. Menurut pengamatan praktisi yang lama berkutat di tema keberlanjutan, fokus pada label “sustainable” justru menempatkan beban besar pada merek kecil yang sulit mencapai skala.

Pengalaman membangun merek dan memimpin inisiatif misi sosial menunjukkan bahwa estetika, kualitas, dan harga harus bekerja bersama agar sebuah merek dapat tumbuh. Di samping itu, tantangan terbesar terletak pada struktur rantai pasok yang lebih luas, bukan hanya pada cerita pemasaran produk.
Mengapa “sustainable” bukan identitas
Kalimat kunci yang perlu dipahami adalah: “Sustainability” isn’t an identity, it’s an ingredient. Konsumen umumnya tidak keluar rumah dengan niat membeli satu produk karena sifatnya berkelanjutan. Mereka mencari barang yang indah, baik dibuat, dan memiliki harga yang tepat—hubungan emosional dengan merek seringkali lebih menentukan dibanding klaim rasional soal keberlanjutan.
Beberapa merek yang akarnya kuat pada keberlanjutan memang menemukan basis pelanggan yang setia. Contoh yang sering disebut adalah Veja, Reformation, dan Everlane yang tiap-tiapnya pernah menghasilkan pendapatan lebih dari $200 juta. Namun, mereka belum mampu mencapai skala besar seperti pesaing utama yang fokus pada pertumbuhan dan margin—seperti Nike, Zara, dan Gap—yang ukurannya lebih dari 100 kali lipat.
Patagonia muncul sebagai pengecualian yang mampu menembus lebih dari $1 miliar pendapatan, tetapi perlu waktu sekitar 50 tahun untuk sampai ke sana. Pengalaman pendiri dan pelaku industri menunjukkan bahwa nyata atau tidaknya dampak lingkungan tidak hanya tergantung pada klaim merek kecil.
Rantai pasok: inti masalah besar
Membangun blazer keren dari deadstock dan membayar upah layak adalah langkah baik, tetapi itu hanya awal. Tantangan nyata industri terletak pada infrastruktur yang mendasari: pengelolaan limbah tekstil, proses kimia, praktik pertanian bahan baku, dan emisi angkutan barang. Semua ini adalah masalah sistem yang kompleks dan mahal untuk diatasi.
Banyak solusi produksi ramah lingkungan masih membawa biaya lebih tinggi sehingga merek yang menerapkannya cenderung berada pada posisi kompetitif yang sulit kecuali ada skala dan koordinasi rantai pasok. Contoh kecil: startup yang meraih pendapatan $40 juta dapat menjadi contoh, tetapi tidak cukup untuk mendorong inovasi material atau transformasi energi bersih pada skala industri.
Peran merek besar dan langkah praktis
Solusi tidak harus bergantung hanya pada pemain kecil. Ada peluang besar bagi perusahaan besar untuk mengerahkan sumber daya mereka: merek-merek seperti Target, Walmart, Zara, Gap, dan H&M disebut telah melakukan langkah nyata, meski jauh dari sempurna. Alih-alih segera menghakimi, diperlukan keseimbangan mengakui progres dan menuntut lebih banyak transparansi.
- Efisiensi rantai pasok: menyorot contoh penghematan biaya nyata yang berasal dari operasi berkelanjutan—misalnya penghematan miliaran melalui sourcing berkelanjutan dan efisiensi pabrik.
- Dorongan investasi infrastruktur: perusahaan besar dapat bekerja sama dengan mitra rantai pasok untuk mempercepat adopsi energi terbarukan, AI produksi, dan inovasi material jika permintaan cukup terjamin.
- Membuka solusi: akses material dan rantai pasok yang lebih terbuka akan memungkinkan startup kreatif berkontribusi tanpa harus membangun segalanya dari nol. Istilah “Pre-competitive collaboration” sering disebut, tetapi raksasa industri sebenarnya mampu memimpin tanpa menunggu kolaborasi luas.
Selain itu, pengalaman para pendiri yang bertahun-tahun membangun merek berbasis misi adalah aset berharga. Mereka dapat dihadirkan sebagai penasihat atau pemimpin inovasi dalam organisasi besar—bukan sekadar meminta pilot project.
Belajar dari kegagalan produk dan misteri skala juga penting: kasus seperti penjualan besar-besaran Allbirds atau transaksi Everlane dengan Shein menunjukkan bahwa tanpa produk yang kuat dan pengalaman merek yang relevan, klaim keberlanjutan tidak cukup. Sementara itu, proyek yang dikelola baik, seperti Maiyet, menunjukkan bahwa estetika, narasi, dan kualitas bisa tercapai—tetapi belum tentu memicu pertumbuhan besar.
Perubahan yang bermakna akan membutuhkan waktu, modal, dan ketekunan. Pendekatan yang lebih sistemik—menggabungkan inovasi, investasi infrastruktur, dan peran aktif merek besar—lebih mungkin menghasilkan ekosistem fashion yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Kristy Caylor is CEO of Trashie.
