Shah Umair menaruh perhatian pada monumen tersembunyi Delhi sejak kecil. Minatnya pada kepingan koin membawa dia menelusuri legenda yang kurang dikenal, berhenti pada bangunan-bangunan yang sering dilupakan di balik nama-nama besar kota. Perubahan besar terjadi ketika Umair pindah ke ibu kota pada 2018 untuk memulai usaha kreatif. Keputusan itu mempertemukannya lebih intens dengan situs-situs bersejarah; dia mempelajari arsip dan literatur lama demi memahami bagaimana kota ini dibangun dan cerita yang tersisa di balik batu-batanya.
Jejak 10 monumen tersembunyi Delhi
1. Bridge by Firoz Shah Tughlaq
Sebuah jembatan berusia sekitar 700 tahun menjadi temuan tak sengaja bagi Umair dan teman-temannya saat menjelajahi utara Delhi. Dari penelusuran, struktur itu terkait dengan Tughlaq yang melakukan banyak pekerjaan konservasi, termasuk memindahkan dua Pilar Ashoka ke ibu kota. Umair mengingat, “This structure was built by Tughlaq, who did a lot of conservation work in the Mughal era,” yang menegaskan peran pemugaran dalam sejarah bangunan itu. 2. Shalimar Bagh
Taman Mughal di utara Delhi ini dikaitkan dengan salah satu istri Shah Jahan dan menyimpan peristiwa penting: penobatan Aurangzeb yang, menurut catatan Umair, terjadi di kebun itu—bukan di Benteng Merah—menandai perubahan tata upacara kerajaan. Selain itu, taman ini sempat menjadi hunian bagi istri-istri pejabat kolonial. 3. Roshan Ara Tomb and Garden
Roshan Ara, putri Shah Jahan, membangun taman ini sebagai tempat kesenangan pada 1650-an dan kemudian dimakamkan di kompleks tersebut. Lokasi pemakaman digambarkan sebagai lajur tanah sempit yang kini dibatasi oleh kisi-kisi yang runtuh; ruang makam memandang ke langit. 4. Kalan Masjid
Masjid yang dibangun pada 1387 ini berdiri jauh sebelum pembentukan Shahjahanabad. Umair menyebut masjid ini sebagai salah satu dari tujuh bangunan besar yang didirikan pada masa Firoz Shah Tughlaq dan berkaitan dengan kota Firozabad, menegaskan usia dan peran awal struktur itu di lanskap lama Delhi. 5. Rajon ki Baoli
Sebuah baoli awalnya dikenal sebagai Daulat Khan’s Baoli, lalu berubah nama karena kehadiran pekerja bernama Raj Mistri. Umair menjelaskan fungsi sosial baoli: “Islam believes in an afterlife and people often find it difficult to get there,” — konsep menyediakan air sebagai amal yang memberi berkah bagi si pemberi meski sudah tiada. 6. Vasant Vihar
Terletak di satu-satunya taman yang tersisa dari sekitar 1.400 taman yang pernah dibangun oleh Firoz Shah Tughlaq, kompleks makam ini menyimpan makam yang identitasnya belum pasti. Area itu sempat dihuni pengungsi akibat Pembagian yang menetap selama generasi, lalu direvitalisasi oleh pemerintah terkait persiapan perhelatan internasional pada 2010. 7. Madhi Masjid
Di dekat Taman Arkeologi Mehrauli ada masjid abad ke-14 yang mengalami penguatan selama era Mughal. Umair menekankan kondisi pelestarian elemen seperti ubin dan cat yang masih tampak, menandakan fungsi pertahanan dan pentingnya lokasi perbatasan kota pada masa lalu. 8. Qudsia Bagh
Qudsia Begum, istri Muhammad Shah Rangila, membangun kompleks taman di tepi barat Sungai Yamuna. Kompleks itu sempat dipakai Shah Alam II untuk menahan Ghulam Qadir dan kemudian rusak parah pada 1857 ketika terjadi pemberontakan yang turut menandai runtuhnya kekuasaan Mughal. 9. Tughlaqabad Fort
Legenda pembangunan Tughlaqabad mencatat usaha membangun kota pertahanan yang sulit ditandingi. Konflik lokal dengan pembangunan baoli oleh Nizamuddin Auliya memunculkan kisah tentang penghentian pasokan minyak yang memicu solusi lampu berbasis air untuk menerangi pekerjaan malam. 10. Tomb of Iltutmish
Meskipun berada dalam kompleks yang sama dengan Qutub Minar, makam Iltutmish sering diabaikan oleh pengunjung. Umair menyingkap keindahan relief dan kaligrafi di setiap sudutnya, dan menegaskan satu ciri unik: “In contrast to many tombs that have domes, this one does not.”
Menggali cerita di balik batu
Cara Umair bekerja adalah kombinasi membaca sumber primer lama—buku, gazette, kertas—dan penjelajahan langsung, sambil menaruh perhatian pada nama-nama yang kini dilupakan. Ia mengakui tantangan memetakan kembali situs ketika demografi berubah dan toponimi baru menggeser nama lama. Namun bagi dia, upaya membuka kembali cerita monumen-monumen kecil itu adalah pekerjaan cinta yang memulihkan lapisan-lapisan sejarah Delhi. Perjalanan Umair menunjukkan bahwa kota berlapis seperti Delhi menyimpan banyak narasi yang tidak selalu muncul dalam rute wisata populer. Menelusuri monumen-monumen itu memberi perspektif berbeda tentang bagaimana sejarah, ritual, dan kehidupan sehari-hari pernah saling bersinggungan di ruang-ruang yang kini sunyi, namun penuh cerita.
